PRESS RELEASE “FESTIVAL BUDAYA KEMBUL SEWU DULUR 2018”

FESTIVAL BUDAYA KEMBUL SEWU DULUR 2018

A. Latar Belakang

Kebijakan Strategis Keistimewaan DIY terutama urusan Kebudayaan yang tertuang dalam rumusan Panca Arah Kebijakan Strategis yang berdasarkan prioritas dalam rangka mewujudkan masyarakat DIY yang sejahtera, aman terlindungi dan tenteram, maka di bidang Budaya dan Pariwisata, yang salah satu butirnya menyatakan bahwa upaya mewujudkan tata kelola kepariwisataan berbasis budaya yang arahnya untuk mensejahterakan masyarakat.

Saat ini perkembangan dunia informasi global dengan derasnya telah merambah bermacam aspek kehidupan, dalam aspek yang sasarannya adalah dunia intelektual, sosial, budaya maupun bidang lainnya. Perkembangan ini merupakan konsekuensi logis dari sikap setiap pribadi dalam keberadaannya sebagai bagian dari perkembangan budaya itu sendiri.

Salah satu komponen masyarakat yang penting adalah kebudayaan diambil dari kata budaya yang dapat diartikan sebagai suatu hal yang akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, dan berbagai perkembangan di bidang kehidupan yang lain. Proses ini harus disikapi secara kritis dan tepat, mengingat bahwa budaya adalah hal yang harus dipelihara akan membawa dampak yang sangat besar dan penting dari suatu proses perkembangan pada suatu generasi bangsa.

Sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 1983 tentang Tahun Kunjungan Wisata, berbagai terobosan pariwisata di Indonesia telah dilakukan dengan memanfaatkan kedudukan Indonesia sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang bersaing baik wisatawan mancanegara atau wisatawan nusantara.

Perkembangan pergerakan wisatawan DIY menunjukkan bahwa selama tahun 2011 jumlah kunjungan wisatawan ke DIY mencapai 3,2 juta, terdiri dari 3,058 juta wisatawan domestik dan 148,76 ribu wisatawan asing. Meskipun dari sisi jumlah wisatawan domestik jauh lebih dominan dengan porsi sekitar 96 persen, namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan proporsi wisatawan asing dari 3,4 persen menjadi 4,6 persen. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa pariwisata adalah satu andalan penerimaan devisa negara, dan dilihat dari perkembangan pergerakan wisatawan nusantara bukan lagi pangsa sekunder bagi kepariwisataan Indonesia.

Cara yang efektif untuk meningkatkan  kunjungan wisata adalah dengan memanfaatkan dan mengelola secara baik potensi wisata yang sudah ada seperti warisan-warisan budaya tradisional. Warisan-warisan budaya tersebut tentu menghargai keselarasan, keserasian dan keseimbangan manusia dan lingkungannya sebagai nilai esensial ruang yang harus dijaga dan dipelihara, selanjutnya dikenal dengan program pengembangan eko wisata budaya (eco cultural tourism program).

Selain itu dengan dikeluarkannya Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY salah satunya mengatur tentang kebudayaan yang berlangsung di DIY dan Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta, sehingga tata nilai budaya Yogyakarta adalah tata nilai budaya Jawa yang memiliki kekhasan semangat pengaktualisasiannya berupa pengerahan segenap sumber daya (golong gilig) secara terpadu (sawiji) dalam kegigihan dan kerja keras yang dinamis (greget), disertai dengan kepercayaan diri dalam bertindak (sengguh), dan tidak akan mundur dalam menghadapi segala resiko apapun (ora mungkin).

Pemerataan Kawasan Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta memang terus diupayakan; salah satu kawasan yang perlu diperhatikan adalah Kabupaten Kulon Progo, terutama kawasan uang menarik adalah Kawasan Perbukitan Menoreh; adalah sebuah kawasan perbukitan yang membujur di batas barat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Letaknya berada diantara Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Magelang. Kawasan perbukitan ini merupakan kawasan berhutan yang menjadi sumber mata air bagi beberapa sungai yang mengalir di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Secara historis dan budaya, kawasan ini merupakan kawasan penting yang terkait dengan budaya Mataram dan basis perjuangan Pangeran Diponegoro.

Dengan kondisi dan potensi Kawasan Perbukitan Menoreh tersebut maka warga masyarakat di Menoreh mulai bangkit kesadaran budayanya pada dasawarsa terakhir ini. Menoreh tak harus menjadi kawasan pedesaan yang selalu ditinggalkan warganya. Kerusakan hutan harus diperbaiki, kebudayaan setempat harus dilestarikan. Tingkat perekonomian petani pengolah hasil hutan yang mendominasi populasi penduduk Menoreh pun harus dapat diberdayakan.

Sebuah gagasan kemudian muncul untuk mencoba mewujudkan misi dan cita-cita tersebut diatas, kami Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara (JMBN) didukung oleh para seniman dan Budayawan Daerah Istimewa Yogyakarta telah merancang suatu kegiatan atau acara yang kami harapkan akan dapat mengkolaborasikan dan menfasilitasi ide dan kreativitas, khususnya dalam pengembangan program eko wisata budaya di Kabupaten Kulon Progo.

B. NAMA KEGIATAN

“FESTIVAL BUDAYA KEMBUL SEWU DULUR 2018”

C. PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

  • Selasa, 6 November 2018 Jam 15.00 – 23.00 WIB dan
  • Rabu, 7 November 2018 Jam 04.30 – 23.00 WIB

Tempat Kegiatan:

Bendung Kayangan dan Moyeng Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, DIY

D. MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

Maksud dan Tujuan Pelaksanaan Kegiatan ini adalah:

  • Meningkatkan kesadaran budaya masyarakat Kulon Progo untuk melestarikan budaya asli Kulon Progo sebagai salah satu bagian dari budaya keistimewaan DIY.
  • Memasyarakatkan program Eko Wisata Budaya yang menjadi fokus kebijakaan Pemerintah DIY di bidang Kepariwisataan.
  • Memberikan motivasi kepada daerah untuk lebih menunjang pengembangan sektor kepariwisataan khususnya di Kabupaten Kulon Progo.
  • Memberikan alternative pelestarian kebudayaan dan sejarah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Memperkenalkan tempat wisata dan budaya asli Kulon Progo; terutama dalam rangka menunjang fungsi Bandar Udara Baru Yogyakarta di Temon Kulon Progo, sehingga dapat menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Kabupaten Kulon Progo.
E. BENTUK KEGIATAN

Meliputi beberapa kegiatan:

  1. Lomba Fotografi “Photographer Camp In Moyeng”

Peserta lomba fotografi akan hadir di Bendung Kayangan untuk mengabadikan momen – momen menarik yang terjadi selama acara berlangsung dan nantinya foto – foto tersebut akan dilombakan dan dipilih beberapa pemenang oleh Juri.

  1. Eksplorasi Bendung Kahyangan

Peserta lomba fotografi mengakrabkan diri dengan lokasi acara Festival Kembul Sewu Dulur 2018 yang akan berlangsung.

 

  1. “Nungsung Surya” di Puncak Moyeng

Pengunjung akan menikmati matahari terbit di Puncak Moyeng dengan atraksi seni dari budaya local dan juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, joget mataram, memainkan rebab, dan melukis warna alam bersama dengan seniman.

  1. Pesona Lembah Moyeng

Pengunjung dan peserta lomba fotografi yang telah menikmati matahari di Puncak Moyeng akan diarahkan turun menuju Lembah Moyeng. Disana pengunjung dan peserta lomba fotografi akan dimanjakan oleh keindahan yang tersembunyi di Lembah Moyeng.

  1. “Tai Chi on The Riverside”

Acara demo senam Tai Chi ini akan dipimpin oleh Bp.Murdiyono & didampingi oleh Bp.Warsoyo yang berasal dari sasana Tai Chi Chuan Yogyakarta. Demo senam Tai Chi ini akan diikuti sekitar 200 orang.

  1. Karnaval Budaya

Karnaval Budaya akan menampilkan potensi seni budaya lokal Menoreh yang akan diikuti anak, remaja, ibu – ibu dan masyarakat sejumlah 500-an orang. Dimulai dengan Kelompok Sekar Pangawikan yang memimpin Karnaval Budaya. Lembaga Kebudayaan Jawa yang berpusat di Yogyakarta ini memimpin Karnaval Budaya dengan membacakan “Sastra Mantra” berupa kidung sebagai pembuka. Kelompok “Sastra Mantra” disusul oleh Kelompok Jathilan dari Tileng yang akan di guyang. Setelah itu, Kelompok Tani Ngudi Rejo yang akan mengikuti Karnaval Budaya dengan membawa memedi sawah/weden manuk, peralatan tani, dan hasil bumi. Kelompok Tani diikuti oleh ibu – ibu PKK yang bertemakan Nglarak Blarak. Selanjutnya Kelompok dari SMP 2 Girimulyo mengikuti kelompok Nglarak Blarak. Diujung akhir adalah Kelompok Drumband dari SD N 1 Jetis.

  1. Upacara Adat Saparan “Kembul Sewu Dulur 2018”

Sebagai upacara ritual budaya yang dilaksanakan setahun sekali sebagai bentuk syukuran kehadirat Illahi dengan diberikannya keindahan alam yang membuahkan rezeki, sekalian juga memperingati makmurnya kedung kahyangan sebagai cikal bakal acara tersebut.

  1. Upacara Ritual “Guyang Jaran”

Kesenian ini adalah tradisi yang unik yang dilakukan oleh Kelompok Seni Jathilan dengan “guyang” atau memandikan Kuda di sungai kahyangan dan dilanjutkan “Kebar” atau pentas jathilan di Bendung Kahyangan.

  1. Pentas Tari Tradisi

Memanjakan pengunjung dengan lenggok para penari berasal dari Tamansiswa Nanggulan yang menampilkan Tari Gambyong, Tari Golek, dan Tari Dewi Sri. Mereka sebagai pembuka acara malam hari di Bendung Kahyangan.

  1. Musik Etnik Nusantara dan Pentas Tari Angguk

Para pemusik etnik nusantara akan menghibur pengunjung dengan penampilan bermusik mereka, diantaranya Berisik Percussion, Tingang Tatu, dan Lawunk Ensamble. Diakhiri dengan tarian para penari Angguk dari Pripih, Kulon Progo.

F. PENYELENGGARA KEGIATAN
  1. Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.
  3. Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara, Yogyakarta (JMBN).
  4. Lembaga Adat Desa Pendoworejo.
  5. Kolaborasi Para Seniman DIY dan Seniman Manca Negara.
G. SASARAN KEGIATAN

Sasaran pelaksanaan kegiatan ini adalah:

  • Wisatawan Domestik dan Wisatawan Mancanegara.
  • Seniman dan Budayawan Kulon Progo dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Seniman dan Budayawan Manca Negara.
  • Masyarakat DIY dan Luar DIY.
H. PENUTUP

Demikian kegiatan ini kami buat sebagai wujud kepedulian didalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam melestarikan budaya dan perkembangan budaya itu sendiri.

Hanya dengan bantuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak, kegiatan ini dapat terselenggara sesuai dengan harapan dan keinginan kita bersama.

 

Hormat kami,

Yogyakarta, 28 September 2018

 

Prijo Mustiko

Ketua Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *